Little Wonders - part1

LITTLE WONDERS
CHARACTER:
Stewart Dawson: main character
Rose Dawson: Ibu
Hans Adams: kerabat ibu, ketua Stu diperusahaan koran.


Sore itu di Newcastle, September 1895.

“Maaamm, a..a..a..ku mendapat tip yang lumayan hari ini.” sahut Stu, didepan rumah. Stu membuka pintu, masuk kedalam rumah. Stu membuka kamar Ibunya.

“Ada apa? Kau terlihat sangat senang.” balas Ms. Dawson, Ibu Stu, tengah berbaring dikasur. Ibu melihat Stu memegang koran dibalik punggung.

“Sebaiknya koran itu sudah kamu bayar, Stu.”

“Mmmm.. selama Mr. A..a..a..dams tidak mengetahuinya…” jawab Stu.

“Astaga.. besok Ibu akan..” Ibu memotong Stu.

“T..t..t..idak tidak tidak Mam!!” potong Stu. “Besok a..a..a..kan Stu bayar dengan tip yang h..h..h..ari ini aku dapatkan.” ujar Stu. “Stu ingin mama tetap b..b..erbaring saja, Stu yakin ja..ja..ja..ntung mama akan kem..kem..kem..bali pulih.” ujar Stu lagi, menahan Ibu untuk beranjak dari kasurnya. Ibu tersenyum mengalah, lalu berbaring kembali.

Stu menarik kursi yang ada didekatnya, lalu duduk disamping Ibu. Tangan kiri menggenggam koran, sedangkan yang kanan merogoh saku dada untuk mengambil pensil.

“Apakah kamu akan mengisi TTSnya, atau sudah selesai?” ujar Ibu.

“Se..se..se..begitu tahukah ibu tentang kebiasaanku ini?” jawab Stu, tersenyum. Stu meletakkan koran pada kaki Ibu yang ditutupi oleh selimut. Stu gemar mengisi TTS yang ada pada koran setiap harinya, hal tersebut membuat dirinya rileks selepas bekerja menjadi loper koran sehari penuh.

“Setidaknya biarkan Mama ikut berpikir, Stu.” canda Ibu yang direspon oleh senyuman Stu dengan meletakkan koran diantara mereka berdua, lalu memberikan Ibu sebuah pensil yang lain ada dikantongnya.

Ibu mengambil kacamata pada meja yang berada disampingnya, lalu diliatnya beberapa kolom yang menurutnya menarik.

“Stu, pernahkah kau berpikir apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat yang bersamaan ketika kuda berlari?” tanya Ibu kepada Stu sembari membaca suatu artikel yang ada pada kolom. Terlihat Stu tidak menggubris Ibu.

“Pertanyaan nomor 14, 7 huruf, men..mendatar. Akan muncul se..se..sesudah timbul keraguan, huruf ke-5nya ialah A…” gumam Stu sambil berpikir.

“Keberanian? (courage)” sahut Ibu cepat.

“Yep.” tanggap Stu cepat. “Tidak mam, aku ti..tidak pernah berpikir sejauh itu.” lanjut Stu tanpa melihat Ibu.

“Orang ini, Thomas Alva Edison, sepertinya pembual.” sahut Ibu dengan nada meremehkan. “Dia mengklaim dirinya bisa membuat gambar apapun menjadi bergerak.” lanjut Ibu.

“Mmm.. mungkin di..di..a sedikit gila, Mam..” jawab Stu. “Pertanyaan te..te..terakhir. Tujuh huruf menurun, huruf ke-3 ialah E. Da..da..dalamnya hal ini, tidak ada seorangpun ya..ya..yang bisa ukur, bahkan sang pemilik. Pertanyaan ma..macam apa ini?!” gumam Stu kesal.

“Dia akan bekerjasama dengan Lumière Brother's mengadakannya pada tanggal 28 Desember tahun ini di Boulevard des Capucines.” sahut Ibu.

“Dimana i..itu, Mam?” tatap Stu, mengabaikan TTS sejenak. “M..m..ungkin hal itu memang be..be..nar-benar terjadi. Maksudku, dia me..me..mang akan melakukannya dan orang-orang a..a..kan melihatnya.”

“Kita akan ke Perancis bulan depan, Mama dan Mr. Adam sedang mengurus..”

“ROSEEEEE, APA KAU DIDALAAAMMM!!!” teriak seorang pria. “Itu suara Hans, buka kan pintunya, Stu.” Stu dengan sigap menuju pintu depan. Pintu pun dibuka.. dan benar, Hans Adams atau Mr. Adams bagi Stu karena dia adalah pemilik perusahaan koran ditempat Stu kerja. Stu terlihat cemas karena salah satu koran yang dia ambil selepas kerja.

“Aku tahu koranku hilang satu pagi ini, salah satu langgananku datang ke kantorku, mengadu tentang koran yang tak kunjung diantarkan. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya sekarang karena kau memang seperti itu. Dan permisi, aku ingin bertemu dengan Rose.” ujar Hans.

“Ba..ba..ba..ba..ba..baiklah Mr. Adams.. sa..sa..saya memint…”

“Gagapmu lebih parah ya apabila kamu merasa bersalah.” potong Mr. Adams sinis. Stu menunduk dan mempersilahkan Mr.Adams masuk lalu mengantarkan langsung ke kamar Ibu.

“Rose, aku mendapat tiketnya! Mungkin hanya ini yang bisa kubantu..” tunjuk Hans tiga lembar tiket kapal ferri yang mengantar mereka ke Perancis didepan Rose dan Stu. “Aku punya teman, Jac, dia dokter jantung terbaik yang pernah aku temui.” lanjut Hans.

“Ya Tuhan, Hans. Kau sangat baik pada kami.. aku tida..”

“Rose, Will sudah sangat banyak membantu karir ku selama ini. Aku tidak pernah lupa jasa dan saran yang pernah ia lakukan dan katakan kepada ku. Sebuah kewajiban ku untuk merawat kalian setelah ia meninggal, yang tersisa dari William Dawson, seseorang yang sangat aku hormati sampai saat ini.” potong Hans, lalu memberikan tiketnya ke Rose.
Tiket ditangan Rose,  digenggamnya erat. “Hans.. aku mengucapkan teri…”

“Apakah tempatnya sa..sa..ngat jauh dari Boulevard des Capucines, Mr. Adams?” tanya Stu memotong Ibu. Mr. Adams dan Ibu menatap Stu.

“Kau membacanya, ya?” Ibu menatap Hans

“Bukan aku, ta..ta..pi Ibu yang…”

“Dia sungguh gila, bukan?” lanjut Mr. Adams “Menurutku itu gila, jelas aku akan hadir untuk menyaksikan. Dan aku pikir, itu adalah hal bagus untuk dijadikan ulasan.”

“Mam.. apakah ki..kita diperbolehkan untuk se..setidaknya bermimpi hal-hal ya..ya..yang tidak masuk akal seperti orang yang a..a..da dikoran? Selama ini Stu se..se..selalu mendapat beberapa cacian apabila Stu meng..mengutarakan mim..mim..mimpi Stu yang terlalu tinggi.” ujar Stu kepada Ibu. Tertunduk malu.

“Oh, jadi kau mempunyai mimpi yang besar juga ya, bocah?” ujar Mr. Adams.

“Dengar, kau itu mirip dengan Ayahmu, William. Sayangnya, ia tidak gagap sepertimu.” Lalu Rose mencubit tangan Hans. “Aaauuuww…” gumam Hans sembari mengusap2 tangannya yang telah dicubit.

“Hey dengar, pencuri. Kau harus wujudkan entah apapun mimpimu itu. Kalau tidak, kau hanya akan menjadi loper koran saja sepanjang hidupmu. Apakah kau mau bekerja terus untukku? Apa kau merasa nyaman setiap hari aku marahi? Hah?” ujar Mr. Adams dengan nada agak tinggi.

“Kalimatmu akan menyakiti perasaannya, Hans.” ucap Rose menyudahi mereka.
Stu yang tertunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya, menatap Mr. Adams dan Ibu. Mereka melihat Stu, lalu Mr. Adams berbisik ke Rose “Anakmu ini, Stewart Dawson.. adalah anak yang..”

“AKU TAHU JAWABANNYA!!!” teriak Stu, tersenyum bahagia.

“Apa yang kamu katakan?” tanya Mr. Adams ke Stu.

“Perasaan, Mam.. perasaan!!” jawab Stu lantang sambil melihat Ibu.

“Kau semakin tidak masuk akal, Stu.” ujar Mr. Adams. Ibu terdiam dan hanya menatap Stu.
Stu berdiri dari duduknya, lalu mengambil koran untuk mengisi pertanyaan terakhir TTS tadi dengan pensil yang dari tadi ia genggam.

“Jawabannya adalah perasaan (feeling), Mam!” ujar Stu kepada Ibunya setelah menyelesaikan TTS-nya. Menunjukkan semua hasil TTS-nya dengan mengangkat koran kedepan muka Ibu dan Mr. Adams.

“Perasaan adalah hal yang o..o..orang lain bahkan diri ki..kita sendiri, tidak tahu seberapa dalamnya.”ujar Stu ke Ibu.

“Itu dia, Stu!” potong Mr. Adams. Sambil mengarahkan jari telunjuknya ke Stu. Stu menatapnya kebingungan, begitu juga Rose.

“Karena tidak bisa diukur, maka tidak usah terlalu dipikirkan. Kau mengerti? Aku tahu kau mengerti, karena dari apa yang aku katakan, kau seperti Ayahmu, cerdas dan bermimpi besar.” ujar Mr. Adams
Ibu memanggil Stu dengan tangannya yang melambai, Ibu memeluk Stu erat, mengusap-usap rambutnya hingga mengeluarkan air mata.

“Kau tahu, Rose. Sebenarnya dia anak yang istimewa untuk ukuran delapan tahun..” ucap Hans kepada Rose. Rose mengangguk dan berbisik “Aku tahu…”


-----------------------------------------------------TO BE CONTINUED------------------------------------------

Komentar